My Little Concept

Selasa, 03 September 2013

Mengapa pergi ?

Disuatu perkotaan, diperumahan elite. Disanalah seorang gadis usia remaja tinggal, Luna namanya. Dia tinggal bersama kedua orang tuanyayang amat sangat mencintainya.Karna Luna adalah anak semata wayangnya. Meski begitu, Luna bukan anak yang manja, bahkan orang tuanya pun ingin sekali dibuat sibuk dengan manjanya Luna.

Suatu hari Luna bertemu dengan seorang cowok yang menarik hatinya, seseorang yang baru di lingkungan rumah dan sekolahnya. Galih namanya, setiap harui setiap waktu, Luna tak pernah jemu memandang dan memperhatikan Galih, walaupun dari kejauhan. dia gak pernah menghampiri si cowok itu, karna Luna adalah seorang yang pemalu.Galih gak pernah tau, kalo ada seseorang yang simpati padanya, karna Luna gak pernah menceritakan bahkan menunjukan ketertarikannya pada Galih. Namun pada suatu hari, ketika Luna sedang memperhatikan galih, tiba tiba dai luar kamarnya, terdengar suara pelan, ternyata mamihnya.. "Hai sayang, sedang apa amu disitu ?" Luna hanya menjawab singkat "nggak mih" "nggak gimana, mamih lihat kamu sedang memperhatikan sesuatu dibawah sana, coba mamih lihat" kata mamihnya penasaran.
"kamu sedang memperhatikan galih yah ? atau anak anak kecil yang masih pada ingusan itu ?" selidik mamih menatap Luna dengan tajam. "mamiih, aku lagi liat langit ko mih" Luna menjawab tanpa melihat tatapan mamih."gak usah bohong, masa lihat langit matanya ke bawah ? oo iyah Lun, kita ke rumah tetangga baru kita yuuk, kita kan belum kenalan" kata mamih tanpa menunggu jawaban Luna menarik tangan Luna. Itu artinya, mamih ngajak ke rumah galih ? Seketika luna shock.

******
Setelah perkenalan dadakan itu, Luna dan galih telah saling mengenal dan kemudian berubah menjadi seorang sahabat. Mereka melewati hari hari berdua. Seakan persahabatan mereka telah terjalin sejak lama. Tapi Luna sama sekali gak pernah menyatakan tentang perasaannya kepada Galih. Karenanya, galih gak pernah tau tentang isi hati Luna.

Selain akrabnya Luna dan galih, kedua orang tua mereka pun saling berhubungan baik, Galih sering maen ke rumah Luna, walaupun kadang Luna gak ada di rumah, tapi entah apa yang membuat Galih sangat betah ketika main ke ruma Luna. Padahal, disana hanya ada papih dan mamihnya Luna saja.Dan kadang - kadang, mamihnya Luna pun sering keluar untuk arisan.

Suatu malam, jam 21.15 Luna dengan semangatnya pulang ke rumah dari les bahasa inggrisnya. Malam ini, Luna ada janji bertemu dengan galih, karna malam ini akan menjadi malam yang special buat Luna, Luna berniat menyatakan perasaannya pada galih, ia coba untuk berani karena mamihnya terus terusan ngasih semangat ke Luna. Jantung Luna semakin deg degan ketika melihat sandal galih sudah ada didepan teras rumahnya. Kmudian Luna pun bergegas masuk ke rumahnya dengan perasaan cinta yang semakin besar didalam hatinya. "Galih.. Galih.. Galih" dengan suara manja Luna memanggil manggil sahabatnya itu, tapi sama sekali gak ada jawaban dari Galih. "Galih, kamu daimana??" belum selesai panggilan Luna itu, tiba tiba di ruang keluarga ia melihat galih sedang berpelukan dengan papihnya tanpa mengenakan baju. Tertegun ia bagai disambar petir, melihat kejanggalan yang baru ia lihat selama hidupnya, apalagi itu papihnya sendiri. Tak hanya kaget, dan sedih yang dirasakan Luna, tetapi malu dan penyesalan yang dalam menjadi satu. Kemudian dia pingsan, "bruuukkkk" Luna terjatuh menyenggol pot yang ada di dekatnya. lalu galih pun tersadar dari kegilaannya, mereka pun lalu membawa Luna ke RS terdekat.

Kemudian di RS..

Dalam baringan yang tak berdaya, Luna mencoba berbicara, "Aku .. aku.. aku sayang kamu Galih.. tapi.. " lalu galih pun mencoba untuk menyelanya, "Luna.. maafkan aku.. aku dekat dengan kamu, karna aku suka sama papih kamu, dan rencananya setelah bercerai dengan mamihmu, nanti aku dan papihmu akan segera menikah." ucap galih dengan enteng...

****  TO BE CONTINUED ****

0 komentar:

Posting Komentar

Eva Luthfatunnisa Zakaria. Diberdayakan oleh Blogger.

Google+ Followers

© Fathunnisadzack, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena